EFEK SAMPING MAKAN NASI GORENG
Dari milis tetangga: Hasil research yang baru saja dilakukan membuktikan bahwa makan nasi ternyata tidak baik bagi kita.
Buktinya :
1. NASI MENYEBABKAN KECANDUAN. Responden kami yang tidak makan nasi
selama sehari saja akan kelaparan dan merasa sangat ingin makan nasi
lagi.
2. SETENGAH dari seluruh siswa Indonesia yang makan nasi nilainya ada di bawah rata-rata kelas.
3. Suku-suku pada zaman batu yang tidak pernah makan nasi terbukti TIDAK
PERNAH mengidap tumor, Alzheimer, osteoporosis, ataupun Parkinson.
4.. Dokter melarang bayi yang baru lahir untuk makan nasi. Hal ini
menjadi bukti bahwa nasi punya dampak BERBAHAYA yang sudah dibuktikan
oleh ilmu kedokteran.
5. Nasi yang kering biasa dimakan oleh ayam. Nah, sekarang anda perlu curiga dari mana FLU BURUNG berasal.
6. Jumlah pemakan nasi di Indonesia jauh lebih banyak dibandingkan
dengan jumlah pemakan nasi di negara maju. Ini mungkin salah satu
penyebab KETERBELAKANGAN pada negara ini.
7. Di warung-warung, biasanya para buruh makan nasi dalam jumlah lebih
banyak daripada kaum eksekutif. Hal ini membuktikan bahwa makan nasi
MENURUNKAN kemampuan ekonomi seseorang.
9. Makan nasi dapat menyebabkan rasa haus alias MENYERAP air. Padahal tubuh kita sebagian besar terdiri dari air.
10. Dalam kondisi tertentu, makan nasi MENINGKATKAN resiko kematian. Misalnya makan nasi sambil jalan di tengah jalan tol.
11. Pengidap DIABETES lebih dianjurkan makan kentang daripada nasi. Berarti nasi kurang baik bagi KESEHATAN.
12. Makan nasi menyebabkan keinginan mengkonsumsi sayur dan lauk.
Misalnya nasi bandeng (nasi + bandeng goreng), nasi kucing (nasi +
kucing goreng), dsb. Hal ini bisa menyebabkan OBESITAS.
14. Nasi DIMASAK dalam suhu lebih dari 100 derajat Celsius. Itu panas yang cukup untuk MEMBUNUH orang.
15. Mudah kehilangan konsentrasi, sehingga tidak tahu point No.8, dan 13 tidak ada.
Hayoooo ! Anda pasti akan melihat ke atas lagi untuk membuktikan No. 8, dan no. 13. Tidak ada.
Itulah refleks akibat kebanyakan makan NASI. Hue... he.... he.....
KLO MW MAKAN NASI GORENG JANGAN BANYAK "
Sumber: www.kaskus.com
Sabtu, 28 Januari 2012
Fenomena Unidentified Flying Object (UFO)
Peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menilai
fenomena Unidentified Flying Object (UFO) bukan sebagai bagian dari
pembahasan secara scientific (ilmiah,red). Pasalnya, keberadaan UFO ini
tidak pernah bisa dibuktikan secara ilmiah.
"Dalam nomenklatur kajian antariksa, UFO tidak pernah masuk sebagai kajian ilmiah," ujar Peneliti LAPAN, Thomas Djamaludin, Selasa (8/4).
Thomas mengakui bahwa ada sebagian masyarakat yang mengaku pernah menyaksikan atau melihat objek luar angkasa yang berbentuk seperti topi dan bercahaya, ataupun bentuk lainnya, dan menyebutnya sebagai UFO. Bahkan, dari informasi yang diperoleh Republika, pada Juni mendatang, pemburu UFO dari seluruh Indonesia akan berkumpul di Bandung untuk menantikan datangnya penampakan UFO. Mengenai hal ini, Thomas menegaskan, berbagai kesaksian dari orang yang pernah melihat benda luar angkasa yang disebut UFO ini tidak pernah bisa dibuktikan secara ilmiah. "Kesaksian-kesaksian itu sifatnya lebih personal saja," cetus dia.
Beberapa waktu yang lalu, kata Thomas, National Aeronautics and Space Administration (NASA) pernah melakukan kajian terhadap foto sebuah object yang bercahaya dan bentuknya mirip Apollo. Gambar objek tersebut difoto oleh salah seorang astronot saat penerbangan Apollo.
Dari hasil kajian NASA, kata Thomas, objek dalam foto itu ternyata salah satu bagian dari Apollo itu sendiri. Dengan demikian, kata dia, NASA pun tidak pernah memiliki bukti secara ilmiah adanya UFO.
"Dalam nomenklatur kajian antariksa, UFO tidak pernah masuk sebagai kajian ilmiah," ujar Peneliti LAPAN, Thomas Djamaludin, Selasa (8/4).
Thomas mengakui bahwa ada sebagian masyarakat yang mengaku pernah menyaksikan atau melihat objek luar angkasa yang berbentuk seperti topi dan bercahaya, ataupun bentuk lainnya, dan menyebutnya sebagai UFO. Bahkan, dari informasi yang diperoleh Republika, pada Juni mendatang, pemburu UFO dari seluruh Indonesia akan berkumpul di Bandung untuk menantikan datangnya penampakan UFO. Mengenai hal ini, Thomas menegaskan, berbagai kesaksian dari orang yang pernah melihat benda luar angkasa yang disebut UFO ini tidak pernah bisa dibuktikan secara ilmiah. "Kesaksian-kesaksian itu sifatnya lebih personal saja," cetus dia.
Beberapa waktu yang lalu, kata Thomas, National Aeronautics and Space Administration (NASA) pernah melakukan kajian terhadap foto sebuah object yang bercahaya dan bentuknya mirip Apollo. Gambar objek tersebut difoto oleh salah seorang astronot saat penerbangan Apollo.
Dari hasil kajian NASA, kata Thomas, objek dalam foto itu ternyata salah satu bagian dari Apollo itu sendiri. Dengan demikian, kata dia, NASA pun tidak pernah memiliki bukti secara ilmiah adanya UFO.
Fungsi Population Genetics menjelaskan peran Seleksi Alam dalam Evolusi Neo-Darwinism
Seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi di bidang biologi molekuler,
aspek-aspek ilmu genetika juga mengalami perkembangan yang sangat pesat.
Aspek yang dimaksud masuk ke dalam ranah ilmu genetika yaitu classical genetics, molecular genetics dan population genetics. Quantitative genetics
yang membahas secara mendalam berbagai macam sifat kuantitatif seperti
tinggi badan, berat badan, IQ, kepekaan terhadap penyakit, dan
sebagainya masuk ke dalam ilmu population genetics. Ilmu population genetics
pula yang mendukung teori evolusi yang dikemukakan oleh Charles Darwin
150 tahun lalu. Ilmu ini menggunakan berbagai macam pendekatan statistik
untuk membuktikan, menjelaskan atau mendeteksi adanya perubahan
organisme dalam lingkungan oleh sebab adanya dorongan evolusi (evolutionary force). Dari sinilah lahir istilah Neo-Darwinism.
Dalam Neo-Darwinism, evolusi dideskripsikan sebagai perubahan frekuensi alel yang ada dalam populasi di tempat dan waktu tertentu oleh sebab adanya evolutionary force. Evolutionary force yang dimaksud di sini terdiri dari (1) Mutation, sebagai the building block of evolution, ia cenderung meningkatkan variasi genetis atau frekuensi alel yang menjadi subyek seleksi alam; (2) Natural Selection, terdiri dari directional selection, stabilizing selection dan disruptive selection; (3) random genetic drift, yang cenderung menekan variasi genetis; (4) Non-random mating yang meningkatkan homozigositas fenotip tanpa mempengaruhi frekuensi alel; (5) migration, yang mendorong kesamaan frekensi alel antar populasi yang berbeda.
Sebelum melangkah lebih jauh, alangkah baiknya jika kita mengenal bagaimana cara menghitung frekuensi alel dalam suatu populasi. Misalkan dalam suatu populasi, terdapat 2 alel dalam satu lokus, yaitu A1 dan A2, maka dalam populasi tersebut hanya ada variasi genotip individu sebagai berikut A1A1, A1A2, dan A2A2. Jika dalam populasi tersebut diketahui berjumlah 500 orang dan individu dengan genotip A1A1 = 245, A1A2 = 150 dan A2A2 = 105, maka frekuensi masing-masing alel dalam gene pool, yaitu A1 dan A2 bisa dihitung sebagai berikut :
Dalam Neo-Darwinism, evolusi dideskripsikan sebagai perubahan frekuensi alel yang ada dalam populasi di tempat dan waktu tertentu oleh sebab adanya evolutionary force. Evolutionary force yang dimaksud di sini terdiri dari (1) Mutation, sebagai the building block of evolution, ia cenderung meningkatkan variasi genetis atau frekuensi alel yang menjadi subyek seleksi alam; (2) Natural Selection, terdiri dari directional selection, stabilizing selection dan disruptive selection; (3) random genetic drift, yang cenderung menekan variasi genetis; (4) Non-random mating yang meningkatkan homozigositas fenotip tanpa mempengaruhi frekuensi alel; (5) migration, yang mendorong kesamaan frekensi alel antar populasi yang berbeda.
Sebelum melangkah lebih jauh, alangkah baiknya jika kita mengenal bagaimana cara menghitung frekuensi alel dalam suatu populasi. Misalkan dalam suatu populasi, terdapat 2 alel dalam satu lokus, yaitu A1 dan A2, maka dalam populasi tersebut hanya ada variasi genotip individu sebagai berikut A1A1, A1A2, dan A2A2. Jika dalam populasi tersebut diketahui berjumlah 500 orang dan individu dengan genotip A1A1 = 245, A1A2 = 150 dan A2A2 = 105, maka frekuensi masing-masing alel dalam gene pool, yaitu A1 dan A2 bisa dihitung sebagai berikut :
Mengeal Hidrogen Peroksida (H2O2)
Hidrogen peroksida dengan rumus kimia H2O2
ditemukan oleh Louis Jacques Thenard di tahun 1818. Senyawa ini
merupakan bahan kimia anorganik yang memiliki sifat oksidator kuat.
Bahan baku pembuatan hidrogen peroksida adalah gas hidrogen (H2) dan gas oksigen (O2). Teknologi yang banyak digunakan di dalam industri hidrogen peroksida adalah auto oksidasi Anthraquinone.
H2O2 tidak berwarna, berbau khas agak keasaman, dan larut dengan baik dalam air. Dalam kondisi normal (kondisi ambient), hidrogen peroksida sangat stabil dengan laju dekomposisi kira-kira kurang dari 1% per tahun.
Mayoritas
pengunaan hidrogen peroksida adalah dengan memanfaatkan dan merekayasa
reaksi dekomposisinya, yang intinya menghasilkan oksigen. Pada tahap
produksi hidrogen peroksida, bahan stabilizer kimia biasanya
ditambahkan dengan maksud untuk menghambat laju dekomposisinya. Termasuk
dekomposisi yang terjadi selama produk hidrogen peroksida dalam
penyimpanan. Selain menghasilkan oksigen, reaksi dekomposisi hidrogen
peroksida juga menghasilkan air (H2O) dan panas. Reaksi dekomposisi eksotermis yang terjadi adalah sebagai berikut:
H2O2 -> H2O + 1/2O2 + 23.45 kcal/mol
Faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi dekomposisi hidrogen peroksida adalah:
Inteligensi Dan IQ
Menurut David Wechsler, inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif.
secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu
kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh
karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan
harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan
manifestasi dari proses berpikir rasional itu.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi inteligensi adalah :
Faktor bawaan atau keturunan
Penelitian membuktikan bahwa korelasi nilai tes IQ
dari satu keluarga sekitar 0,50. Sedangkan di antara 2 anak kembar,
korelasi nilai tes IQnya sangat tinggi, sekitar 0,90. Bukti lainnya
adalah pada anak yang diadopsi. IQ mereka berkorelasi sekitar 0,40 -
0,50 dengan ayah dan ibu yang sebenarnya, dan hanya 0,10 - 0,20 dengan
ayah dan ibu angkatnya. Selanjutnya bukti pada anak kembar yang
dibesarkan secara terpisah, IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi,
walaupun mungkin mereka tidak pernah saling kenal.
Faktor lingkungan
Walaupun ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah
dibawa sejak lahir, ternyata lingkungan sanggup menimbulkan
perubahan-perubahan yang berarti. Inteligensi tentunya tidak bisa
terlepas dari otak. Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang
dikonsumsi. Selain gizi, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif
emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting.
Inteligensi dan IQ
Orang seringkali menyamakan arti inteligensi dengan
IQ, padahal kedua istilah ini mempunyai perbedaan arti yang sangat
mendasar. Arti inteligensi sudah dijelaskan di depan, sedangkan IQ atau
tingkatan dari Intelligence Quotient, adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan.
Dengan demikian, IQ hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf
kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara
keseluruhan.
Langganan:
Postingan (Atom)
