Peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menilai
fenomena Unidentified Flying Object (UFO) bukan sebagai bagian dari
pembahasan secara scientific (ilmiah,red). Pasalnya, keberadaan UFO ini
tidak pernah bisa dibuktikan secara ilmiah.
"Dalam nomenklatur kajian antariksa, UFO tidak pernah masuk sebagai
kajian ilmiah," ujar Peneliti LAPAN, Thomas Djamaludin, Selasa (8/4).
Thomas mengakui bahwa ada sebagian masyarakat yang mengaku pernah
menyaksikan atau melihat objek luar angkasa yang berbentuk seperti topi
dan bercahaya, ataupun bentuk lainnya, dan menyebutnya sebagai UFO.
Bahkan, dari informasi yang diperoleh Republika, pada Juni mendatang,
pemburu UFO dari seluruh Indonesia akan berkumpul di Bandung untuk
menantikan datangnya penampakan UFO. Mengenai hal ini, Thomas
menegaskan, berbagai kesaksian dari orang yang pernah melihat benda luar
angkasa yang disebut UFO ini tidak pernah bisa dibuktikan secara
ilmiah. "Kesaksian-kesaksian itu sifatnya lebih personal saja," cetus
dia.
Beberapa waktu yang lalu, kata Thomas, National Aeronautics and Space
Administration (NASA) pernah melakukan kajian terhadap foto sebuah
object yang bercahaya dan bentuknya mirip Apollo. Gambar objek tersebut
difoto oleh salah seorang astronot saat penerbangan Apollo.
Dari hasil kajian NASA, kata Thomas, objek dalam foto itu ternyata salah
satu bagian dari Apollo itu sendiri. Dengan demikian, kata dia, NASA
pun tidak pernah memiliki bukti secara ilmiah adanya UFO.
Thomas menambahkan, dirinya pernah melihat di internet ada gambar
makhluk luar angkasa yang tengah dibedah oleh sekelompok ilmuwan.
Anehnya, kata dia, kalau hal itu memang itu benar terjadi, kenapa sampai
sekarang, tidak pernah ada paper ilmiah yang menjelaskan soal itu.
"Bagi kalangan ilmuwan, hal ini merupakan sebuah prestasi yang dapat
mengantarkannya memperoleh nobel. Jadi, tidak mungkin
disembunyi-sembunyikan," cetus dia.
Meski begitu, Thomas menjelaskan, dalam nomenklatur astronomi, memang
terdapat kajian khusus mengenai kemungkinan adanya kehidupan lain di
luar Bumi. Nama kajian itu adalah Bio Astronomi.
Tapi, kata dia, dalam Bio Astronomi ini, kajiannya difokuskan pada
kemungkinan-kemungkinan kehidupan lain di luar angkasa berdasarkan
indikator-indikator tertentu yang memang bisa dibuktikan menjadi
penunjang kehidupan.
Menurut Thomas, masih adanya sebagian masyarakat yang mempercayai UFO
merupakan hak masyarakat. Meski demikian, Thomas menghimbau, jika ada
masyarakat yang menyaksikan fenomena antariksa seperti benda bergerak
disertai cahaya, sebaiknya segera melaporkan ke LAPAN.
"Nanti, kami akan melakukan kajian secara ilmiahnya sehingga bisa menjelaskan kepada masyarakat," jelas dia.
Sumber:
http://www.forumsains.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar